Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra pada tahun 1950.
Perburuan merupakan novel yang berlatar masa pendudukan Jepang di Indonesia, ketika situasi sosial dipenuhi ketakutan, pengawasan, dan gejolak menuju kemerdekaan.
Mengisahkan seorang anak wedana yang bernama Hardo,
yang hidup pada masa pemerintahan Jepang. Dulu, ia adalah seorang tentara
Seinendan, namun ia menjadi buronan Jepang sebab pemberontakan yang ia lakukan
terhadap Jepang. Cacat fisik pada tubuhnya yang bercirikan panjang tangan
kanan melebihi tangan kiri menjadikan ciri khas dalam proses pencariannya.
Selama diburu oleh Jepang, ia menjadi seorang kere,
yaitu gelandangan yang selalu berjalan menyusuri Jakarta untuk menghilangkan
jejak dari Jepang. Semenjak ia menjadi buronan Jepang, ayahnya yang menjabat
sebagai wedana Karangjati dipecat bahkan kedua orang tuanya disuruh untuk
mencari dan mengepung anaknya sendiri untuk dibantai.
Informasi tersebut ia dapat ketika tanpa sengaja Hardo
bertemu dengan ayahnya di sebuah gubuk di tengah sawah. Pada saat itu Hardo
sedang beristirahat dan ayahnya lari dari gropyokan judi. Pada saat itu pula
ayahnya bercerita bahwa ia telah dipecat dan ibunya telah meninggal dalam
perjalanan mencarinya sebab tidak kuat menahan sakit dan beban yang dipikulnya.
Ayahnya merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan Hardo dan ia sangat yakin
bahwa kere yang ia ajak bicara itu memang benar Hardo. Akan tetapi Hardo tidak
mau mengatakan dirinya yang sebenarnya dan ia mengatakan kepada ayahnya bahwa
ia bukanlah Hardo melainkan kawan anaknya, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak
akan menceritakan di mana Hardo berada.
Ternyata pertemuan Hardo dengan ayahnya tercium oleh
Jepang sehingga penggeropyokan kembali terjadi di gubuk tersebut saat ayah
Hardo sedang membakar jagung untuknya, untung Hardo sudah lari menyelamatkan
diri terlebih dahulu ketika sirene tanda penggeropyokan itu berbunyi.
Jepang mendapat informasi keberadaan Hardo dari lurah
Karangjati, ayah dari tunangannya yang bernama Ningsih. Sebelum ia bertemu
dengan ayahnya, ia bertemu dengan ayah Ningsih dan merayunya agar kembali
pulang, namun Hardo tidak mau dan mengatakan akan kembali apabila Jepang menyerah.
Ia merasa bahwa lurah tersebut akan berkhianat kepadanya dan memberikan informasi
tentang keberadaannya.
Semenjak pengropyokkan di gubuk tengah sawah, ayahnya
diinterogasi dan ditangkap oleh Jepang. Akan tetapi ia tidak terbukti bersalah,
sehingga Jepang meminta pertanggungjawaban atas informasi yang diberikan oleh
si lurah dan membuatnya ikut terseret dalam kasus perburuan Hardo. Ia pun babak
belur dihajar oleh tentara Jepang atas kesalahan informasi dan terus dimintai
keterangan tentang keberadaan Hardo.
Tanpa berpikir panjang ia turut menyebutkan anak
semata wayangnya yang bernama Ningsih sebagai kekasih Raden Hardo. Jepang pun
memberikan mandat kepada scodanco Karmin untuk menangkap dan menginterogasi
Ningsih. Karmin adalah sahabat Hardo yang lolos dari perburuan dan telah
berkhianat kepada kawan-kawannya yaitu Hardo, Dipo, dan Kartiman. Ia juga yang
menyebabkan kawan-kawannya menjadi buronan meski ia tidak pernah mengatakan
di mana kawan-kawannya itu berada.
Setelah diinterogasi, Ningsih pun dibawa oleh
Jepang dan hendak ditahan bersama ayahnya sebelum Hardo menyerahkan diri. Kabar
kekalahan Jepang terhadap sekutu menggemparkan keadaan dan membuat panik
tentara Jepang. Terlebih lagi Hardo, Dipo, dan Kartiman datang sehingga Ningsih
beserta ayahnya terselamatkan. Namun sayang dada Ningsih tertembak oleh tentara
Jepang ketika Hardo hendak menemuinya.
Novel ini juga menampilkan gambaran masyarakat pada masa pendudukan: kehidupan rakyat yang tertekan, perubahan hubungan sosial, serta suasana politik yang membuat setiap orang berada dalam posisi serba sulit. Melalui tokoh-tokohnya, Pramoedya memperlihatkan bagaimana perang dan kekuasaan memengaruhi pilihan pribadi seseorang.
Secara tematis, Perburuan banyak membahas tentang perjuangan kemerdekaan, identitas diri, pengorbanan, kemanusiaan, dan pencarian makna hidup di tengah keadaan yang penuh tekanan. Karya ini tidak hanya berbicara tentang perlawanan fisik, tetapi juga tentang perjuangan batin manusia ketika berhadapan dengan rasa takut dan tanggung jawab.

0 Response to "Sinopsis Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer"
Posting Komentar