Novel Pulang karya Leila S. Chudori diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2012.
Pada suatu malam yang pekat di Jakarta pada akhir dekade 1960-an, bayangan tragis peristiwa besar masih bergelayut di udara kota: bayangan yang tak hanya memenuhi ruang fisik tetapi juga benak banyak orang yang hidup setelah atau terpisah dari kejadian itu. Bagi sebagian orang, malam ini adalah malam yang membangkitkan kenangan tak pernah padam — kenangan tentang sebuah negeri yang berubah menjadi lautan darah, perebutan ideologi, dan penolakan identitas yang berujung pada pengasingan dan trauma. Inilah kisah tentang pencarian, kehilangan, dan arti kata “pulang” dalam kehidupan orang-orang yang sejak lama terpisah dari tanah kelahiran mereka.
Dimas Suryo, seorang jurnalis muda dari Indonesia, belum menyadari bahwa keputusan sederhana untuk menerima tugas luar negeri akan menjadi titik balik hidupnya. Ketika ia dan kawan-kawannya — Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjai Sin Soe — dikirim ke konferensi jurnalistik di Santiago, Cile dan kemudian bertemu kembali di beberapa negara lain, mereka masih memandang perjalanan ini sebagai kesempatan profesi dan petualangan ke dunia luar. Ketika berita tentang peristiwa besar di Indonesia tahun 1965 tiba, mereka merasa kehilangan keseimbangan waktu: sebelum mereka bisa kembali, negara mereka telah berubah secara drastis.
Pemberontakan yang dikenal sebagai Gerakan 30 September telah mengguncang negeri mereka. Pemerintah baru yang muncul menuding banyak orang sebagai simpatisan ideologi kiri atau terlibat dalam Gerakan itu. Tanpa peringatan, paspor Dimas dan rekan-rekannya dicabut. Mereka menjadi orang tanpa negara, terdampar di negeri orang dengan status eksil politik; mereka tidak lagi diizinkan kembali, bahkan ketika kabar tentang kekacauan di tanah air terus mengalir.
Di Paris, Prancis, dalam suasana revolusi mahasiswa pada Mei 1968, Dimas dan teman-temannya berusaha bertahan hidup. Di kota yang dipenuhi semangat bebas dan tuntutan perubahan, mereka membuka sebuah restoran bernama Restoran Tanah Air sebagai cara untuk mempertahankan identitas budaya mereka. Restoran itu bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga sumber kebanggaan dan satu-satunya cara mereka menemukan makna baru di tengah keterasingan. Hidup sebagai eksil berarti menerima ketiadaan akar yang jelas: tanah ibu pertiwi tampak begitu jauh sementara status mereka tak lagi diakui oleh ibu negeri sendiri.
Dalam perjalanan itu, kehidupan pribadi Dimas berubah secara mendalam. Di tengah eksil, ia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang cerdas dan penuh gairah hidup. Dari hubungan ini lahirlah sebuah ikatan yang dalam dan sebuah keluarga baru di tanah asing. Mereka menikah, berbagi mimpi dan harapan, dan kemudian dikaruniai seorang putri bernama Lintang Utara. Bagi Dimas, Vivienne bukan hanya cinta; dia adalah bagian dari kehidupan yang memungkinkan harapan tumbuh meskipun rindu kepada Indonesia tak pernah hilang.
Namun, bahkan saat bahagia menetap di Paris, bayangan kejadian di Indonesia tak pernah sepenuhnya padam. Kejadian tragis tak hanya memengaruhi mereka yang terasing, tetapi juga yang tertinggal. Sahabat Dimas, Hananto Prawiro, yang tetap tinggal di Indonesia, menjadi korban dari pemburuan politik yang brutal: ditangkap dalam gejolak pasca 1965, dituduh berafiliasi dengan kelompok kiri, dan akhirnya menghadapi hukuman mati. Di sisi lain, istrinya, Surti Anandari, dan ketiga anaknya harus bertahan dalam kondisi yang penuh tekanan dan diskriminasi. Bahkan setelah Hananto menghilang dari peredaran, kehidupan keluarganya terus dipenuhi ketidakpastian dan penderitaan yang tak terhingga.
Surti, yang pernah menjadi kekasih Dimas pada masa kuliah mereka, menyaksikan dunia mereka runtuh. Hubungan masa muda itu — yang pernah menjadi pelarian romantis dari realitas politik — kini tinggal sebagai luka kenangan. Ketika Hananto menjadi sasaran pemburuan politik, Surti dan anak-anaknya menghadapi penderitaan yang tak terucapkan, sebuah realitas yang membentuk masa depan keluarga mereka secara radikal.
Hari-hari berlalu, dekade berganti dekade, dan Paris menjadi rumah tak resmi mereka. Dimas mengajar bahasa Indonesia, menulis artikel tentang kondisi politik di tanah air, dan terus mempertahankan identitas Indonesia dalam setiap helaan napas hidupnya. Di balik semua itu, Lintang Utara tumbuh sebagai anak dari dua dunia — warisan Indonesia dari ayahnya dan dunia baru yang dibentuk oleh pengalaman di Prancis. Namun, meskipun ia tumbuh dalam lingkungan yang relatif stabil, pertanyaan tentang asal usul, identitas, dan rumah tetap menggantung di benaknya.
Tahun demi tahun berganti. Lintang kini menjadi seorang perempuan yang mandiri dan bersemangat. Meski “rumah” baginya selalu terasa lebih dekat dengan Paris, rindunya pada tanah air tak kalah kuat dibandingkan ayahnya. Saat ia menjadi mahasiswa dewasa di Universitas Sorbonne, topik tugas akhirnya pun mengambil arah ke negeri nenek moyangnya: Indonesia. Ia ingin memahami bukan hanya kisah keluarga, tetapi juga sejarah kolektif yang membentuk masa lalu orang-orang seperti ayahnya — kisah yang tak tercatat dalam buku sejarah konvensional.
Lintang memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada Mei 1998 — sebuah masa ketika negeri itu sekali lagi berada di persimpangan sejarah besar. Kerusuhan Mei 1998 telah mengubah wajah Jakarta: demonstrasi mahasiswa, ketegangan ekonomi, kekerasan yang tak terduga, semua berubah menjadi simbol runtuhnya rezim yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade. Dalam kebisingan yang memekakkan telinga, Lintang bersama Segara Alam, anak dari Surti dan Hananto, menyaksikan masa transisi ini dengan perspektif yang jauh lebih personal daripada banyak orang di sekeliling mereka.
Segara, yang hidupnya dibentuk oleh ayahnya yang hilang dan ibunya yang bertahan sendirian, berjalan bersama Lintang melalui jalan-jalan Jakarta yang penuh peluru dan asap. Bersama, mereka melihat wajah kota yang sama sekali berbeda dari yang pernah diceritakan dalam surat-surat atau foto-foto lama. Jakarta kini bukan hanya sekadar kota; ia adalah panggung konflik, harapan, dan trauma yang harus dihadapi generasi baru.
Dalam perjalanan Lintang di Indonesia, ia menemukan kenyataan pahit dan manis tentang sejarah keluarganya. Ia melihat bagaimana Hananto telah dipakai sebagai simbol dalam narasi politik yang lebih besar, bagaimana Surti berjuang untuk melindungi ketiga anaknya, dan bagaimana nasib eksil seperti Dimas serta kawan-kawannya telah meninggalkan bekas yang tak terhapuskan pada kehidupan banyak orang. Kenyataan ini tak mudah diterima: melintasi kejayaan dan kehancuran, Lintang menyadari bahwa “pulang” bukan sekadar kembali secara fisik, tetapi menerima seluruh lapisan sejarah, luka, dan identitas yang membentuk dirinya.
Dalam bab-bab terakhir, terungkap refleksi-refleksi tentang makna rumah dan tanah air. Dimas, yang telah lama hidup di luar negeri, selalu memendam kerinduan terhadap Indonesia — bukan hanya sebagai lokasi geografis, tetapi sebagai jaringan hubungan batin, kenangan, dan harapan tak tertulis. Keinginannya untuk kembali, meskipun tak pernah terwujud dalam hidupnya sendiri, menjadi legasi emosional bagi Lintang dan generasi berikutnya.
Pada akhirnya, novel ini menyajikan sebuah gambaran utuh tentang bagaimana sejarah besar bersinggungan dengan kehidupan individu. Dimas Suryo, Lintang Utara, Segara Alam dan tokoh-tokoh lainnya bukan sekadar karakter di halaman buku, tetapi representasi dari ribuan individu yang hidup dalam bayang-bayang kejadian besar dan terus menerus mencari makna dari apa artinya menjadi bagian dari sebuah bangsa — di tengah kenyataan bahwa untuk pulang terkadang membutuhkan pengakuan batin yang jauh lebih berat daripada sekadar meninggalkan dan kembali ke sebuah tempat.

0 Response to "Sinopsis Novel Pulang karya Leila S. Chudori "
Posting Komentar