Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2017.
Di waktu yang senja dan sunyi, laut berbicara dengan caranya sendiri. Ombak yang pecah di karang, gemuruhnya yang monoton, dan luasnya yang tak berbatas menjadi penanda suara-suara yang hilang. Di balik kekosongan itu, sebuah kisah besar tentang manusia-manusia kecil mulai terungkap — kisah yang berakar pada masa kelam sebuah bangsa. Ini bukan sekadar cerita tentang peristiwa politik, tetapi tentang manusia yang mencintai kehidupan, persahabatan, dan harapan di tengah tekanan rezim yang menindas.
Di sebuah kampus besar di Yogyakarta pada awal 1990-an, Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa Sastra Inggris yang cerdas, sensitif, dan berjiwa pemberontak, mulai menemukan panggilan hidupnya. Laut bukan tipe idealis naif; ia peka terhadap ketidakadilan, fasih dalam kata-kata, dan memiliki hasrat besar untuk melihat perubahan sosial. Bersama sahabat-sahabatnya — Daniel, Sunu, Alex, dan Julius — ia membentuk sebuah lingkar persahabatan yang kuat, di mana diskusi panjang tentang sastra dan politik bercampur dengan tawa malam dan aroma kopi kampus.
Pergerakan mahasiswa yang mereka ikuti bukan sekadar wacana kultural atau abstrak: itu adalah desakan batin untuk menolak penindasan yang semakin nyata di seluruh negeri. Ketidakadilan sosial terlihat jelas di jalan-jalan, kampung-kampung tertindas, dan di laporan-laporan berita yang dibungkam oleh kebijakan otoriter. Laut dan kawan-kawannya mulai tergabung dalam banyak aksi, dari blokade kecil di kampus hingga konsolidasi yang lebih besar di kota-kota besar.
Tetapi kebebasan tak berterima bagi rezim yang merasa terusik. Di suatu malam yang kelam, Biru Laut bersama Daniel, Sunu, dan Alex disergap oleh sekelompok pria tak dikenal. Keempatnya dibawa ke tempat yang tidak diketahui. Di lorong gelap tanpa cahaya, mereka mengalami penyiksaan fisik dan psikologis. Pukulan, teriakan, pembungkaman — semua itu seakan dirancang untuk menghancurkan bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa. Pertanyaan yang selalu dilemparkan: “Siapa di balik gerakan kalian?” bukanlah sekadar permintaan informasi, tetapi intimidasi untuk menyerah.
Hari demi hari, sel tanpa jendela itu menjadi rumah mereka yang tak diinginkan. Biru Laut merenungkan semuanya, mulai dari ingatan akan hangatnya rumah, suara ibunya di dapur, hingga senyum sahabat-sahabatnya. Ia terus berusaha menulis dalam batinnya: catatan-catatan kecil tentang harapan, kebersamaan, dan apa artinya menjadi manusia di bawah kekuasaan yang arogan. Ketika penyiksaan berubah menjadi rutinitas yang brutal, solidaritas di antara para tahanan menjadi satu-satunya yang membuat mereka tetap berdiri.
Di luar tempat persembunyian itu, kehidupan terus bergulir. Komunitas mahasiswa dan petani berkumpul di sebuah lahan di Blangguan, berupaya menanam jagung sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur agraria yang timpang. Aksi itu bukan sekadar urusan pertanian — itu adalah simbol penolakan terhadap penindasan yang berakar di tanah sendiri. Namun, blokade tentara dan pengkhianatan dari orang yang tidak mereka duga menggagalkan usaha itu. Bagi para aktivis muda, kegagalan itu adalah pelajaran keras tentang harga sebuah perjuangan.
Saat kejadian Blangguan berakhir, sebagian dari mereka sadar bahwa jalan yang mereka pilih bukan hanya tentang dinamika mahasiswa saja — tetapi tentang pilihan kolektif yang bisa merubah kehidupan banyak orang. Namun, di tengah kebingungan strategi, persahabatan mereka menguat, memberi akan pemahaman bahwa harapan belum sirna sepenuhnya.
Sementara Biru Laut dan teman-temannya terperangkap dalam nasib yang tak menentu, di rumah orang tua Laut keadaan jauh berbeda tetapi sama beratnya. Orang tua Laut menjalani hari-hari mereka dalam penantian yang tak jelas. Setiap minggu, tanpa gagal, mereka menyiapkan piring di meja makan untuk anak yang belum kembali itu. Sepotong kenyataan bertabrakan dengan penyangkalan: mereka memilih meyakini bahwa Laut masih hidup, meski bukti nyata tidak pernah datang. Barang-barang miliknya — buku catatan, piring favorit, hingga sepatu yang tak pernah terpakai — tetap dirawat seolah waktu belum beranjak.
Adik Biru Laut, Asmara Jati, merasakan beban berbeda. Tidak sepenuhnya terjerat dalam penyangkalan orang tua, ia memilih untuk mencari jawaban dan jejak kakaknya. Asmara adalah seorang dokter yang rasional tetapi berhati besar; ia mengerti perbedaan antara harapan dan kenyataan, tetapi ia tetap memilih untuk terlibat aktif dalam perjuangan mencari kebenaran. Dukungan terhadap Komisi Orang Hilang menjadikan Asmara sebagai salah satu penggerak suara keluarga korban: mengumpulkan data, berbicara dengan saksi, dan menenun benang-benang harapan yang hampir putus.
Dalam upaya menemukan petunjuk atas nasib para aktivis yang hilang, Asmara bersama sejumlah sahabat mulai menelusuri jejak yang tersebar — dari pulau kecil di dekat garis laut hingga arsip-arsip lama yang tertinggal. Upaya demi upaya mempertemukan mereka dengan fakta-fakta yang pahit. Tulang-belulang manusia yang ditemukan di Pulau Seribu membuka babak baru dalam pencarian; namun, meski bukti itu hadir, tabir kebenaran tetap tertutup tebal oleh arteri politik dan militer yang enggan mengungkap semuanya.
Setiap temuan membawa jiwa yang lebih berat. Asmara tahu bahwa mencari kebenaran bukan hanya tentang keberanian akademik, tetapi tentang menghadapi luka batin yang tak pernah sembuh. Ia mengalami konflik internal antara kebutuhan untuk menemukan kebenaran dan keinginan untuk membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya.
Sementara itu, komunitas keluarga korban menemukan cara lain untuk terus memperjuangkan keadilan. Di setiap Kamis, mereka berkumpul di depan Istana Negara, payung hitam di tangan, tanpa seruan lantang, tetapi penuh makna. Aksi Kamisan menjadi simbol solidaritas yang lebih dari sekadar tuntutan — itu adalah doa kolektif yang disampaikan tanpa suara, di mana setiap langkah mereka adalah penolakan terhadap pelupaan dan pengingkaran sejarah.
Pada suatu momen yang sangat emosional, Biru Laut, yang masih terperangkap dalam ingatan batinnya, seolah-olah menulis surat imajiner kepada orang-orang di luar sel. Surat itu bukan surat biasa — itu adalah pesan dari kedalaman laut kehidupan dan kematian. Ia meminta Asmara, orang tuanya, dan Anjani — kekasihnya — untuk tidak menyerah pada kehidupan. Ia berbicara tentang cinta, harapan, kenangan, serta panggilan untuk terus memperjuangkan keadilan meskipun tubuhnya mungkin telah hilang.
Dalam imajinasinya, laut itu sendiri menjadi metafora suara-suara yang tak pernah padam: suara sahabat yang tertawa di malam hari, suara ibu yang memanggilnya pulang, dan suara Anjani yang pernah berjanji akan bertahan di sampingnya. Laut menjadi saksi dan jembatan antara yang hidup dan yang hilang.
Akhir dari cerita bukan tentang penutupan sebuah pintu sejarah, tetapi tentang bagaimana jiwa-jiwa yang tersisa memilih untuk membuka lembar baru. Acara pelepasan di laut — di mana keluarga dan sahabat melemparkan karangan bunga dan foto-foto ke ombak — menjadi ritus penghormatan terakhir. Bukan sekadar ritual perpisahan, tetapi aksi simbolik bahwa kebenaran tidak akan hilang meski terbentur pada penyangkalan panjang.
Asmara, yang dalam perjalanannya banyak kehilangan, memilih untuk hidup dan menjaga harapan tak padam. Orang tua Laut, akhirnya memahami bahwa cinta bukan sekadar penyangkalan, tetapi juga pembebasan. Dan meskipun keadilan sejati belum tercapai, mereka tahu bahwa suara-suara yang hilang akan terus bercerita melalui mereka yang masih hidup.
Laut Bercerita bukan hanya tentang satu orang yang hilang. Ini adalah gambaran kolektif tentang generasi yang berani bermimpi, menyuarakan keadilan, dan berjuang meskipun menghadapi kekuatan yang tampaknya tak terkalahkan.

0 Response to "Sinopsis Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori"
Posting Komentar