Kumpulan Puisi Isbedy Stiawan ZS



Kumpulan Puisi Isbedy Stiawan ZS - Assalamu’alaikum… selamat pagi, selamat berjumpa lagi dengan blog MJ Brigaseli. Pada kesempatan di pagi ini saya akan mencoba berbagi tentang kumpulan puisi Isbedy Stiawan ZS. Langsung saja ya….

Isbedy Stiawan ZS, (lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, 5 Juni 1958) adalah sastrawan Indonesia. H.B. Jassin menjulukinya Paus Sastra Lampung.

Sejak lahir hingga kini, Isbedy tinggal menetap di Bandar Lampung bersama istrinya, Adibah Jalili. Mereka dikaruniai lima anak: Mardiyah Novrida, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah.

Selain menulis karya sastra (cerpen, puisi, esai sastra), kini dia aktif di Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung.

Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemarinya. Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun bertaeter bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqornain dalam Sanggar Ragom Budaya. Ketika STM, dia mulai menggeluti sastra, yaitu menulis puisi dan cerpen. Dia kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Karya pertama Isbedy yang dimuat pertama adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi. Sejak itu puisi, cerpen, dan esainya mengalir deras dan dimuat di berbagai media lokal dan nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Republika, Horison, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Lampung, Riau Pos, dll.

Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolah menjadi puisi. Ide kreatifnya bisa muncul kapan saja, saat perjalanan, merenung di waktu malam atau langsung di depan komputer. Isbedy juga dikenal sebagai sastrawan fenomenal di Lampung yang tiada henti menghidupkan keberlangsungan sastra di Lampung hingga kini. Kedekatannya kepada kalangan sastrawan muda Lampung, menyebabkan ia didudukkan sebagai "pengayom" sastra.

Dia pernah diundang mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai kota di Tanah Air, Malaysia, Thailand seperti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru dan Kedah (Malaysia), Dialog Utara di Thailand, Utan Kayu Literary Festival, dan Ubud Writers and Readers International Festival. Diundang Dewan Kesenian Jakarta pada 2005, dalam perhelatan Cakrawala Sastra Indonesia.




TUBUH TANPA RUH

-bagi almarhum D.Z


tubuh itu
tanpa ruh. nyebarkan duka
melayat bunga dari seluruh kampung
(dari sini perjalanan masih panjang
bagi tubuh tanpa ruh
yang ditandu; bergegaslah peluit dibunyikan
biar sampai di stasiun sebelum senja merengkuh)
tubuh itu
tanpa ruh
bekukan hujan di awan
sepanjang hari
sementara dari kamar
netes kenang; siapa bisa
menghapus gambar tangan
di dada?

12/7/1984





MALAM-MALAM MENGAJI

hayat ngembara padang kelam
lentera di tangan mercukan jalan setapak
kaki-kaki basah oleh keringat
persis ketika harap pun sampai
dan tak kembali-kembali lagi

1984 





SOLILOKUI PATUNG

aku kayu tak bernilai. kau lukai dengan
pisau sehabis diasah. dari hari ke hari perih
kutahan. terus kau sileti aku jadi garis-garis
jadi bentuk jadi rupa. rupa yang kau inginkan!
aku kayu tak bernilai. aku patung berharga
gadis yang dirindu. tercipta dari serpihan
sembah. tuhanmu

23/11/1984 





IMPROVISASI I

pungutlah sisa kehidupan yang terbuang itu
sebab hanya yang tersisa bagianmu. santan
dan ampas telah terpisah sebelum liurmu tumpah
dari lambung dan menyungai ke langit itu. tempat
kelaparan bermuara. mendupakan hidup
yang tertapa. untukmu: tak lebih
senasib ahasveros dalam zaman pasar ini
mengembara tak kenal…

1985 





IMPROVISASI II

tak perlukah kita tertawa dan bermanja? sejenak saja
demi melupakan periuk yang telanjur terbalik di dapur. dan
anak-anak mengunyah daun jambu untuk obat
pengempis perut kembung

kalau aku boleh tertawa dan bermanja, kalau aku boleh
menidurkan kecompangan ini di perutmu itu. kalau aku
boleh membuka album perkawinan kita. sebenarnya kita
masih punya keceriaan. tapi benarkah keceriaan
dan kebahagiaan itu milik kita? Kita
belum memiliki sepenuhnya—desismu
soalnya kau belum mau merajakan ketenangan. Dan
menjajakan senyum yang tak setiap orang memilikinya.
Ombakkanlah itu setiap saat. Tuhan beserta orang yang sabar

1985 





DI TEPI LAUT

kita pernah bermain layang-layang di sini
rambutmu yang tersibak angin adalah benangnya
aku ulur kau biar terbang menyilang cakrawala
tapi kendali tak sudi kulepaskan. Tak sudi
betapa bodohnya aku, benang di tangan putus
kulihat kau terbang sendiri
tanpa bisa kuraih kembali. Tanpa bisa
di tepi laut ini
kunanti layang-layangku yang putus
kunanti kau hadir kembali menemaniku
bercakap-cakap pada karang

1984/1985 





DOA JENAZAH

aroma dupa dan wangi sayur yang ditawarkan
dari sudut-sudut rumah ini kuharap jangan
dihidangkan di atas piring kerandaku
lalu turunkan muatan! buka palka
dan kuburkan kepasrahanmu. beri jalan aku
kembali kepada-Nya. tanpa asap dupa
tanpa pesta!

1984/1986 





PADA AKHIRNYA AKU KEMBALI SENDIRI

pada akhirnya aku kembali sendiri juga. aroma
pupur dari kamar sebelah, dari kota-kota yang tak pernah sunyi
mendadar kengerian jiwaku. o, adakah yang lebih sepi selain
diurbaniskan seperti begini?
aku kembali sendiri juga pada akhirnya. tak berkawan
tak berfamili. didedah oleh pikuk musik jazz
dan bau pupur itu, bau pupur itu. o!

Padang, 1985/1986 





SAJAK KE 27

(Ulang tahun Adibah Jalili)

siapakah yang membangunkan tidurmu? ini hari genaplah
engkau menjaga arloji dari kepecahan dan
mempertahankan siklus bulan bintang serta matahari
dari gerhana atau cerita yang amat purba itu…
siapakah yang menyapa lenamu? kuyakini ini hari
engkau masih tetap menghembuskan balon sepenuh hati
menjauhi pohon mawar yang berduri itu…

: Dekaplah waktu! Ciumlah Aku!

4 Mei 1986





EPITAPH

ada yang tak sempat terucap; getar ari-ari
yang terputus dari pusat-Ku ketika tanah ditimbunkan
ketika palka dikuakkan dan payung hitam menguncup
lalu sebongkah kayu ditancapkan di atas kepalanya
menyilang langkah

18.11.1986 





PERJALANAN PELAUT

karena laut mengajarkan rahasia badai
aku pun setia berlayar. dari pulau asing
ke pulau asing aku tebarkan benih pelaut
dan lalu meninggalkan ratusan rumah
yang memendam kesepian
rumah hanya istirah bagi kejenuhan kapal. oh,
laut yang terapit oleh pulau-pulau
di mana tubuhku sesekali dibaringkan?
dari pulau asing ke pulau asing
aku pahami rahasia badai, aku tebarkan
benih pelaut. sementara pada kedalaman laut
kubur mengajarkan rahasia paling akhir

1987 





AKU HANYA KERAK DI LIANG BUMIMU

Aku hanya kerak di liang bumimu
menunggu sampai musim bertukar.
Tubuhku hitam terpanggang, menahan
derita sepanjang kehendakmu
Di liang bumimu aku menjadi kerak
terlempar dari segala cuaca

sampai musim esok datang
sampai waktumu tak lagi kudengar dentingnya
Dan kota-kota makin jauh dariku
Aku tenggelam dan menghuni di dasar yang sunyi
sementara matahari tak terbit dari bola matamu

15-16 September 1987





SURAT

seribu surat ditulis seribu kota
dirapatkan, tapi tak lunas juga
rinduku padamu
pranko demi pranko direkatkan, dan
pada muka sampul alamatmu kutulis
tapi tuturku terasa kelu bagimu
tak hanya surat. kabar yang sia-sia
di perjalanan; lalu mimpi bermuka-muka.
oh aku menggali keasingan kotaku, aku menggali
kesunyian kotamu bersama ribuan surat
yang kutulis dan kukirim!

26/12/1987 





PADA KETINGGIAN MATAHARI

pada ketinggian matahari
rumput-rumput berkeringat. tangannya
menggapaimu gelisah. hari yang penuh
pembantaian merebahkan nyalinya
hanya jerit. hanya jerit yang menggema
di padang-padang kerontang itu
kemudian senyap
kemudian senyap
sungai pun menerbangkan batu-batu

1987 





LAUT MEMBAWA JASADKU

laut membawa jasadku
ke malam-malam pekat. ke makam-makam sunyi
ditanamkan, menyimpan riuh jam
tanah pun basah, melumpurkan langkah
yang berhenti pada gerbang-Mu
kau pun tersedu. hujan turun
mengabarkan ketajaman pisau padaku, dan
laut tak henti membawa jasadku
ke makam-makam sunyi-Mu untuk ditanamkan!
o aku sendiri dalam kematian ini
di semesta sempurna ketiadaanku

1987 





AKU BACA LEMBARAN-LEMBARAN KORAN
(Satu Amsal)

aku baca lembaran-lembaran koran. dan pada setiap kolom
kusimak dunia yang terluka oleh bibirmu! bahkan hingga
ke halaman sebelah ada pisaumu bermandi
darah terkapar atau cinta yang diujudkan pada iklanmu
sia-sia membaca rahasia duniamu. dan pada setiap
kolom aku mengukur luas kubur atau kaveling penawaran
atau bahasa sanjungmu. lantas bibirmu, lisptickmu yang
merah merayuku untuk merobek!
kecuali dendam, ya Allah

aku melihat tubuhku tersayat di setiap
lembaran-lembaran koran. tak bergerak,
aku membacanya. aku menyimaknya
aku membaca lautan darah. aku membaca musim-musim
kemarau yang membantai taman bunga. pada setiap kolom
dan halaman anyir bibirmu menusuk nuraniku. tapi
karena bibirmu pula aku kasmaran dan patah hati

1987 





PERNAHKAH

pernahkah kau rasakan; tiba-tiba punggung kita
terluka, tapi tak kenal pisau siapa? lalu darah
tak pula menandai dan detik-detik melangkah
seperti biasa

pernahkah kau rasakan; ketika tiba-tiba punggungmu
tertusuk, tapi kau hanya melihat bayang-bayang pisau
yang menyelinap dalam kelam? sedang aku hanya
memandangmu tanpa kata
aku pernah merasakan; ketika punggungku terluka, tapi
tak mampu membaca makna pada runcing pisaumu
yang mandi darahku!

1988





AKU LEBIH DULU MENULIS NAMA-NAMA

Aku lebih dulu menulis nama-nama di bumi ini
sebelum telapakmu kemudian kukenal menciptakan
jalan lain menuju stasiunku. Lihatlah nama-nama
semesta ada dalam jari-jariku begitu kupanggil
satu persatu. juga pada pasir laut rahasia
ciptaanku terpatri,

mengekalkan langkah dan namaku. Tapi kau masih
juga menentang, menghanguskan nama-nama di bumi
dengan api yang kau ambil dari bukit yang jauh itu
Dan ketika telapakmu kukenal kemudian serta menulis
nama-nama di sepanjang perjalanan, alam bagai kehilangan
mataku. Kegelapan pun merestui dan bumi makin
payah menapaki surga. Melenyap dari kerling
tanpa kutahu di tahun kapan dapat bebas
dari kehadiranmu

1988 





TELAH KUJALANI KEKERASAN BATU

Telah kujalani kekerasan batu. dalam diam
kusimpan gemuruh air. lalu keheningan pun
bagian dari napasku

Aku kini menanggung beban matahari. dalam keras tanah
kuterjemahkan detak lumut dan arus air pun kuterjemahkan
menjadi buih bagi semangat zikirku
telah kujalani kekerasan batu. dalam zikir
kunyanyikan gemuruh air!

1988 





MEMBACA BAHASA SUNYI

Seperti kayu aku ikhlas dibakar
dari waktu ke waktu. tubuhku hitam
menjadi arang. Lebur dalam bara dan abu
di dasar tungku kehidupan-Mu
Aku membaca bahasa sunyi
Dari waktu ke waktu kuhikmati bara dan abu
Pada setiap sujud kusebut ketiadaan
melengkapkan arti gerimis yang gugur
di taman-taman atasnama kedamaian
Aku membaca bahasa sunyi
sehabis bara menggenapkan tubuhku
menjadi arang. Di dasar tungku kehidupan-Mu
aku lebur dalam zikir panjang
mengaji rahasia tangan-Mu
Seperti kayu
aku pun ikhlas dibakar. Lebur dalam bara
dan abu. Di dasar tungku kehidupan-Mu
aku terus-terusan sujud menciumi tanah
O telah kubaca bahasa sunyi
di tengah-tengah pikuk bumi yang tidak
pernah menawarkan istirahat atau kedamaian
Begitu bara membakar hingga aku lebur
ke dalam sujud dan zikir
ke dalam sujud dan zikir

1989 





CIUMAN PENGHABISAN

saat ciuman penghabisan kuterima
pada sujud yang panjang, tiba-tiba getar
lembutmu menggoyangkan langit. Aku baca namaku
di sana bersama orang-orang yang kau restui
terus aku mengatas, mendaki puncak segala
puncak

tangga mana yang kutuju? aku telah sampai
pada ciuman penghabisan. di dalam sujud yang
panjang kusetubuhi keabadian. pada puncakmu
aku pun makin lupa dengan gaduh bumi
yang cuma menawarkan nama-nama
saat ciuman penghabisan kuterima

tiba-tiba panggilan lembutmu membuka
jalan satu-satunya untuk kutempuh. aku baca
diriku di sana menari bersama orang-orang
yang kau rindu

1990 





INTERIOR PANTAI

rinduku seperti rindu laut pada pantai. tak ada
waktuku untuk melupakanmu, karena aku akan terus
datang dan menyapamu. meski kemudian aku harus menjauh
ke samudera luas,
membaca desah angin dan riak gelombang
rinduku padamu seperti rindu laut pada pantai. siapa
mampu mencegahku untuk sampai padamu melepas
rindu? seperti laut melepas rindunya di pantai,
aku pun mengurai benang-benang rinduku di maha pantaimu
laut yang liar dan ganas pun tunduk
di pangkuan pantai!

27 Mei 1993





SEPERTI SEMUT

seperti semut yang mendaki perbukitan
betapa jauh dan melelahkan perjalanan ini
tapi dengan dada yang menyala dan senantiasa
menyimpan bahasa-Nya

berangkat juga hewan ini ke kandang
menghitung-hitung perbukitan yang didaki
rasanya baru kemarin kita dilahirkan
seperti semut yang mendaki perbukitan
berangkat juga aku ke sana
membawa rerumputan

menghadap lurus arah matahari

1993





INGIN KUSUARAKAN

ingin kusuarakan apa saja di sini, tapi angin punya
telinga dan kata-kata. bahkan lampu-lampu taman ini
akan merekam dan menyuarakan kembali dengan bahasa
lain. lalu dinding memagar tubuhku,
kesepian yang mendekam!

ingin kumerdekakan apa saja di sini, tapi burung
tak punya lagi sarang yang tenteram. pohon-pohon telah
memburu kota demi kota, mengubah ketenteraman jadi
kegaduhan, dan asap yang dimuntahkan beribu
cerobong pabrik adalah oksigenku setiap detik. aku
merokok limbah serta mengunyah beton!

ingin kutulis apa saja di sini, tapi koran tak lagi
punya suara. seribu iklan memadati halaman
demi halamannya, seperti gula-gula yang dikunyah
anak-anakku. aku hanya membaca bahasa angin di sana
kemudian meliuk di balik bendera setengah tiang.
kemudian hening…

ingin kusuarakan kembali kemerdekaan di sini, tanpa
granat dan senapan. ingin kuteriakkan penderitaan
burung yang kehilangan kebebasan terbang. hingga
di udara yang terbuka tak akan ada lagi kecemasan-kecemasan

1994 




ADA DAUN GUGUR

ada daun gugur
dekat pintu rumahku
dan warna kuningnya
mengabarkan dunia yang pecah
lewat tanah-tanah
hatiku gemetar
memandang namaku
yang mencari-cari rumah
akhirku

ada daun gugur
dekat jendela kamarku
dan warna terbakarnya
memandangku dingin

Surabaya 1994 





DUNIA BOTOL

menghadapi dunia botol yang disuarakan radio
laut dalam diriku seakan berbusa. perahu mana
yang dapat kuyakini untuk menyeberangkanku
ke pulau itu? sedang angin tak menentu
hatiku tiba-tiba tak percaya pada laut
dan pulau menjadi samar di mataku. tapi aku
tak pernah henti mengunyah botol, karena
radio selalu mengantarkannya ke mejaku
sebenarnya aku sudah mati di meja ini
berkali-kali. tapi dalam
dunia botol yang dikirimkan radio
kuburku belum juga diazankan!

1994 





BEBATUAN ITU MERINTIH

lalu bebatuan itu merintih. sejak kemarin matahari
memukul-mukulkan wajahnya di bebatuan. di sungai
yang mengalirkan darahnya
kubaca keperihan dunia: aku tak tahu di mana
lagi kusimpan kesumat ini?
begitu jauh aku terdampar. di pulau yang tak lagi mengenalku
bahkan aku makin asing pada pesta kematianku yang bakal tiba
ingin kumasuk lebih dalam untuk mengaduk-aduk udara
yang beku! Tuhan, di dunia-Mu yang semarak ini kenapa
aku seperti tak mencium aroma manusia?
lalu bebatuan itu merintih. matahari memandang
garang di ujung jalan yang akan memisahkan dunia ini
dengan lain dunia. aku tak lagi paham dengan suara
merdu dan rintihmu. ketika ranjangku bertengkar
dengan maut di malam sunyi itu
inilah perjalanan panjang bagi bebatuan. setelah hari-hari
ditikam sejuta pisau waktu. tak ada lagi sesal dan harapan
udara telah membawa senyum dan tangis pelayat
ke dalam doa yang beterbangan
lalu bebatuan itu merintih. tak ada lagi senyum
yang dinyanyikan sungai, kecuali taman
menjelma tiba-tiba

1995





DI SEBUAH PANTAI

Ada lautan. Gemuruh. Angin topan
Angin badai. Tak henti-henti
Menerpa pantai
katakan, ini pantai milik siapa ?
Sudah lama aku tak mengenalnya
Padahal aku lahir dan menghirup
Asin-manisnya pasir !
Ada gemuruh. Angin Topan
Angin badai. Menghanguskan pantai
Menenggelamkan keangkuhan
Catat, di pantai ini
kekuasaan tak akan abadi
Waktu dan badai
Pasti menyelesaikan !
Seperti rumah-rumahan yang dibangun
Di atas pasir pantai. Dan, ombak ---
seperti tangan-tangan rakyat ---
akan menghapusnya !

Juni 1998





NEGERI YANG KUIMPIKAN


Akhirnya negeri yang kuimpikan sepanjang
tahun-tahun terpenjara kini jadi nyata
Meski harus ditebus dengan air mata dan
luka, kubangun juga di atas puing atau
pasir-pasir

Negeri yang kurindu kini menghadap matahari
Di tanahnya terhampar sawah, hutan, ladang,
padang golf, kondominium, dan relestat. Tapi,
semua itu bukan milikku

Di atas luka-luka, negeri dibangun. Di atas
airmata anak negeri, kau berpesta ! Bertahun-
tahun dalam bayangan menjadi tuhan !
Lalu, tigapuluhdua mil perahu begeri berlayar
Di lautan bergelombang dan berbadai
Aku hitung berapa kali kekalahan
dan kehancuran yang tak tertulis
dalam sejarah

Bagai bangunan yang dibuat dari pasir
lalu terhempas oleh gelombang. Begitulah
aku mencatat perjalanan negeri ini

Akhirnya negeri yang kuimpikan sepanjang
tahun-tahun duka kini terbit juga
Tanpa senyum dan tangis kusambut:"baru kini
aku sungguh-sungguh merdeka!" kata padang golf,
sawa, ladang, konominium, dan relestat
hampir bersamaan
Lalu, mereka pun menyanyikan lagu
kembalikan Busangku ke tanah tercinta

Mei-Juni, 1998





PUISI TERAKHIR

puisi terakhir menyudahi segalanya,
lalu kukumpulkan senja demi senja di hatiku,
seperti daun-daun yang jatuh dari ranting.
puisi terakhir menutup daun jendela,
lalu kuburu angin yang nyaris terbang dari kerongkonganku,
seperti kerinduan bunga pada taman-taman
puisi terakhir membuka pagar tanaman lalu
kusudahi langkah dan ucapku di sana,
seperti kau yang lebih dulu berdiam dalam kata !
puisi terakhir menutup senja halaman
tak ada lagi untuknya !

Lampung Mei, 1999





DONGENG MENJELANG KELAHIRAN

abibah jalili

Sebuah cinta kuledakkan di dalam hatimu
jadilah ia yang mengeram di batinku
dan mengarus di darahku
laksana perahu ia pun menyinggahi
negeri demi negeri : cinta kita bersama
kini, kalau aku datang kepadamu
karena memang aku benar-benar kasmaran
pada aroma dadamu yang seputih
kapas itu......
malam-malam begini, kadang kubayangkan
kau mengganggu dengkurku sambil
mengartikan makna kegelapan
dan kesunyian masih selalu
khusyuk bertasbih
bagi semesta
bagi Ia !

johor malaysia, april 1999





TERKURUNG 120 JAM

joni ariadinata

dan hotel dan kamar mandi ! Gemetarku
saat merasakan kehidupan yang dialiri
mesin dan tombol. Kita sama-sama pasi
terkurung 120 jam dalam baskom
bukalah lemari es, atau putar seharian
televisi yang merayumu menggosok
selangkangan, pandanglah, tapi jangan
sentuh tubuhnya
dan hotel, dan kamar mandi ! Gigiku
saat membayangkan tiba-tiba mesin atau tombol itu mati.
Kita makin terkurung
lebih dari 120 jam dengan mata terbuka
kematian, alih, kau tertawa-tawa
dengan 180 ringgit - hasil jual buku -
untuk sang istri

johor malaysia, april 1999





DI LEMBAH INI

di lembah ini aku kehilangan perahu
yang akan melayarkan jiwaku menemui danau
lalu aku buat lagi perahu-perahu lain
dengan kayu ruhku. kaulah kesepian
bagi rinduku yang muntah
wahai kekasih, sudah terlalu lama
aku mengembara di lembah-lembah
mengubur surat-surat cinta kita
di batu-batu terjal
bila malam ini aku mengenang lagi
surat-surat itu, berarti rinduku
sudah amat luka. dan aku akan tahan
disakiti oleh cintamu
di lembah ini mustahil kubangun perahu
dari tangan yang luka. apalagi ketika
sungai tak berarus...

Lampung, 2000





JALAN MASIH PANJANG

perempuanku, jalan masih terlalu panjang
tapi kulihat kau belum juga letih
meneteki anak-anak dan hidup ini
begitu perkasa bagai srikandi
akulah busurnya. juga anak panah yang
berada di tanganmu. tak ada yang
menikam. juga luka. apalagi darah
dari kehidupan yang merimba
jalan masih terlalu panjang, perempuanku
di antara batu dan duri. akulah tongkat
untuk menyusuri jalan berikut ini
memahami teka-teki buah apel
yang pecah di tanah ini

Jakarta-Lampung, 2000





MEMBALIK MASA LALU

- bagi tw

begitulah. kini aku hanya bisa membalik-balik
jarum waktu. masa lalumu jadi tak berjarak
lagi. jadi indah untuk ditertawakan
katamu, hidup harus bisa melawan. seperti
serdadu di jalan-jalan. lalu warna matahari
akan berubah. lelaki harus berteriak
dan melompat jauh!
tapi, adakah kau sudah lakukan itu semua? seperti
burung yang berani mencari ratusan sarang
di kawat-kawat telepon, listrik, atau
cerobong pabrik
demi membangun kekuasaan? aih! kau pun
mengingsut. aku seperti melihat undur-undur
atau lokan yang merambat mencari
tanah atau pantai
tak pernah sampai.
lihatlah! di sini tak ada lagi
ruang bagi yang berkhianat. juga
si sisiphus....

Jkt, Februari 2000





MERAKIT PERAHU

: t.w, sebuah kenangan pahit

perahu yang kurakit di tepi sungai musi
kini sudah berlayar jauh. selamat malam
selamat siang laut, kataku. karena laut
tak punya nyali, maka berkali-kali
aku menipunya.
karena karang, ikan-ikan, tak punya
telinga. aku pun membisikkan tipu daya
tentang dunia. aku sebarkan fitnah
dari hati yang kelabu
di antara orang-orang, aku kembangkan
layar keculasan. di dasar hati orang-orang,
aku jangkarkan kebohongan
di kelimunan orang, aku tancapkan
pisau di setiap punggungnya. setelah itu,
kukayuh perahu ke tengah laut
meninggalkan kutuk dermaga
hanya dengan keculasan, mungkin
perahu ini akan berlayar
lancar. bisik camar,
lumba-lumba, dan...
perahu yang kurakit dari tepi sungai
musi, kini telah berlayar di air
yang abu. dan aku hanyalah penumpang
di sini. sendiri,
tanpa lambaian dermaga
juga lautan dan pulau-pulau

Lpg-Jkt, Januari-Februari 2000





PUKUL 01.30 BERSAMA Y

hampir saja usai. tapi sediakan waktumu
untuk singgahku. lalu sejenak kita
menyimpan kegaduhan ini
di kursi dengan sebuah meja yang
terbentang, waktu saling merapat
membacakan kebohongan-kebohongan
saat ini aku merasakan waktu begitu
dingin. karena itu, aku merindukan
selimut atau pendiangan
hampir saja waktu menghabisi malam, tapi,
para pejalan malam akan tetap
menemukan tempat persinggahan
untuk sekadar membunuh penat,
atau mengubur pikiran-pikiran kusut
karena neraka yang membakar rumah
seharian

Lampung-Jakarta, 2000





YANTI : DALAM 60 MENIT

"aku sudah melayang dan jauh dari bumi," katamu
lalu tangan dan pikiranmu menggapai-gapai. tak
ada bumi dalam benakmu lagi. dengan mata berapi-api
kautembus kegelapan: di bawah bulan yang remang
dan asap yang sesak,
aku mencari hatimu. Yanti sudah lama melayang
dari angkasa yang satu ke angkasa yang lain. o,
anak-anak menangis minta dibelikan susu
yang juga terus melayang...
marilah merapat. dalam 60 menit segalanya
akan berubah riang dan lupa. dalam desingan
musik dan kealpaan. wahai waktu, kau telah
kuasai bumi ini
dalam dekapan. selama 60 menit dalam larut
musik dan minuman
"aku sudah melayang dan haus," kataku
maka kau mengajakku saling merapat
untuk menebak denyut hati masing-masing. tapi,
apakah kita akan sampai di sana?

Jakarta-Lampung, 2000



Demikian postingan pada pagi ini, semoga bisa bermanfaat bagi yang sedang mencari kumpulan puisi Isbedy Stiawan ZS. Wassalamu’alaikum….

Dari berbagai sumber.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kumpulan Puisi Isbedy Stiawan ZS"

Posting Komentar