Novel Ayah karya Andrea Hirata diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2015.
Di sebuah pulau kecil di Belitong yang dikecup oleh pasir putih dan desiran laut, hidup seorang pemuda bernama Sabari. Dia bukanlah sosok yang menarik perhatian dengan penampilan. Badannya kurus, wajahnya terbentuk kasar, dan telinganya terlihat seperti “cantelan wajan” — julukan yang sering terdengar dari cemoohan orang di sekitarnya. Namun di balik rupa yang dianggap aneh oleh banyak orang, Sabari memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: ketulusan hati dan daya tahan emosi yang luar biasa.
Sejak kecil, Sabari menjalin persahabatan yang erat dengan tiga teman karibnya: Ukun, Tamat, dan Toharun. Mereka tumbuh di bawah langit tropis yang sama, melewati hari-hari sekolah dasar dengan kejenakaan dan impian kecil yang khas anak desa. Ukun dan Tamat dikenal gampang jatuh cinta; Toharun adalah sahabat yang selalu setia; tapi Sabari berbeda. Ia tidak mudah tergoda oleh dunia cinta seperti dua kawannya itu. Ia bersikap dingin terhadap perempuan sampai suatu hari hidupnya berubah oleh seorang gadis bermata indah yang dipanggil Marlena.
Marlena bukan gadis sembarang. Rambutnya hitam mengkilap, senyumannya memesona, dan ia memiliki lesung pipi yang membuat setiap orang yang melihatnya kemudian mengingat namanya. Bagi Sabari, Marlena bukan sekadar cantik; dia adalah sosok yang tak tergapai, seolah hadir dalam mimpi yang tak boleh disentuh. Sabari jatuh cinta sejak pertemuan pertama di sekolah menengah pertama, ketika Marlena secara tak sengaja menyambar kertas ujiannya. Sejak itu, Sabari menulis puisi tentangnya dan meletakkannya di papan mading sekolah. Namun cinta Sabari seperti angin laut Belitong yang tak berjejak: tak pernah dibalas Marlena.
Marlena sering menolak segala pendekatan Sabari. Bahkan, ketika ia mencoba mengungkapkan perasaannya melalui surat, Marlena tidak segan mencabik-cabik surat itu dan menolak kado sederhana yang Sabari kirimkan. Orang-orang di kampung pun mengejek Sabari, terkadang membandingkannya dengan pria tampan lain yang mudah menarik perhatian Marlena. Namun Sabari tetap teguh. Meski sering merasa ditolak dan dipermainkan, ia tidak pernah benar-benar menyerah pada perasaan itu.
Pernah suatu malam Sabari mengirim salam cinta melalui gelombang radio lokal, menggunakan sandi aneh yang hanya ia dan Marlena yang tahu artinya. Ia berharap melalui gema suara di udara, Marlena akan mengetahui betapa tulusnya cintanya. Sementara itu, Ukun, Tamat, dan Toharun menyemangati Sabari sebagai sahabat sejati. Mereka bahkan ikut tertawa dan terkadang ikut merencanakan lelucon demi menarik perhatian Marlena, meski pada akhirnya yang paling gigih adalah Sabari sendiri.
Seiring berjalannya waktu, Sabari berhasil menikahi Marlena walau keduanya memiliki kisah asmara yang pelik. Perkawinan itu bukan disebabkan oleh cinta yang mekar di antara mereka, melainkan oleh keadaan: Marlena hamil di luar nikah. Di tengah tekanan keluarga dan aturan adat setempat yang masih kuat, pernikahan itu tampak sebagai solusi yang paling baik untuk menutupi aib. Sabari, dengan hatinya yang sabar, menerima Marlena tanpa syarat. Ia memimpin rumah tangga kecil itu dengan kesetiaan dan harapan bahwa suatu hari cinta Marlena akan tumbuh.
Kelahiran seorang anak laki-laki yang diberi nama Zorro menjadi puncak kebahagiaan bagi Sabari. Menjadi seorang ayah mengubah fokus hidupnya secara dramatis. Zorro bukan darah dagingnya, namun Sabari mencintai anak itu dengan cara yang tak bisa diukur oleh siapa pun. Ia menggendong Zorro setiap pagi, menghitung jemari kecilnya, membayangkan masa depan anak itu, mengajaknya merasakan pawai kemerdekaan, pasar malam, dan kebiasaan desanya yang sederhana. Zorro memberikan Sabari semangat baru; cinta yang sebelumnya hanya sebatas harapan terhadap Marlena kini berubah menjadi kasih sayang yang nyata dan mendalam terhadap anak lelaki itu.
Namun kebahagiaan tidak abadi. Tidak lama setelah Zorro lahir, kehidupan rumah tangga mereka mulai retak. Marlena merasa tidak bahagia; ia merasa terkungkung oleh realitas pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Perlahan, keinginan Marlena untuk bebas dari ikatan itu tumbuh menjadi sebuah keputusan yang mengguncang dunia Sabari: Marlena meninggalkan Zorro dan Sabari. Ia membawa Zorro bersamanya dan menghilang dari kehidupan Sabari tanpa peringatan. Dunia Sabari seakan runtuh dalam sekejap.
Sabari terpukul amat dalam. Ia kehilangan gairah hidup, berhenti bekerja, dan usahanya pun gulung tikar. Rumahnya menjadi berantakan, rambutnya panjang tak terurus, dan ia sering terlihat menghabiskan harinya di sekitar pasar Tanjung Pandan dengan pandangan kosong. Sahabat-sahabatnya, Ukun, Tamat, dan Toharun, melihat kondisi Sabari yang kian memburuk menjadi sebuah kesedihan yang tak terkatakan. Mereka merasakan kehilangan yang sama pada sahabat mereka, yang dulu penuh semangat.
Hari-hari berlalu bagai ombak yang tak pernah henti, dan tanpa anaknya di sisi, Sabari mulai merasa hidupnya tidak memiliki tujuan. Ia teringat setiap momen kecil bersama Zorro: ketika Zorro tertawa karena ia mengejar ayam kampung, saat ia membacakan puisi pada anak itu di bawah cahaya lampu malam, atau ketika Zorro menggenggam jari Sabari dan berkata bahwa Sabari adalah pahlawan terbaik di dunia. Semua memori itu membakar ruang hatinya dengan rindu yang tak tertahankan.
Melihat keadaan sahabatnya yang semakin rapuh, Ukun, Tamat, dan Toharun bersama beberapa teman lain memutuskan untuk mengambil tindakan. Mereka tahu Marlena berada di suatu tempat jauh dan menjaga Zorro. Tanpa sepengetahuan Sabari, mereka melakukan perjalanan panjang untuk menemukan Marlena dan bayi kecil itu. Mereka percaya bahwa pertemuan antara Sabari dan Zorro adalah satu-satunya cara agar sabari kembali bangkit dari keterpurukan.
Setibanya mereka di tempat Marlena tinggal, sahabat-sahabat Sabari menghadapi kenyataan tak terduga: Marlena bukan hanya enggan kembali, tetapi menganggap Sabari sebagai beban masa lalu yang ingin ia hapus. Namun ketika Zorro melihat wajah Sabari pada foto yang disimpan di dompet ibunya, anak itu mulai menangis. Ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan tentang sosok pria itu, walau ia belum pernah bersua dengannya. Pemanggilan nama -nya yang diucapkan dari ingatan kecilnya yang samar membuka pintu dalam hati Marlena secara tak terduga.
Anak kecil itu kemudian dibawa ke depan Sabari—sebuah momen yang membekas tak hanya bagi Sabari tetapi juga bagi semua yang hadir. Sabari melihat Zorro dengan mata berkaca-kaca, hatinya yang pernah hancur kini merasakan harapan baru. Ia tahu, anak ini adalah bagian dari kehidupannya yang tak pernah ia pilih dengan rencana, tapi justru menjadi hadiah paling berharga dalam hidupnya. Tidak ada kata yang mampu mendeskripsikan apa yang ia rasakan ketika tangan kecil itu menggenggam jarinya dengan penuh kepercayaan.
Sejak hari itu, Sabari kembali pulang bersama Zorro. Ia belajar lagi bagaimana hidup yang patah bisa diperbaiki, satu detik demi detik melalui kehangatan cinta seorang anak. Marlena memilih untuk pergi, namun kasih sabari tetap bertahan—seperti laut yang tetap berdebur meskipun ombaknya dihantam angin kencang. Di akhir kisah, Sabari bukan lagi sekadar lelaki yang pernah dicintai tak terbalas, tetapi seorang ayah yang rela menjalani hidup dengan segala keindahan dan penderitaannya karena cinta kepada anaknya sendiri.

0 Response to "Sinopsis Novel Ayah karya Andrea Hirata"
Posting Komentar