Novel Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2022.
Kisah bermula di sebuah studio rekaman metropolis, di mana gema dentingan gitar membentuk denyut nadi kehidupan seorang legenda rock bernama John Musiciante. John bukan sekadar pemain gitar — ia adalah ikon dari zaman keemasan musik rock, seorang yang pernah mengubah panggung-panggung besar menjadi ladang ledakan emosional, melintasi negara demi negara dengan keringat, darah, dan nada-nada berapi-api. Gitar kesayangannya, sebuah Vintage Sunburst 1960 dari Fresno, California — bukan hanya sepotong kayu berstema musik, melainkan sahabat hidupnya yang diberi oleh ibunya saat ulang tahunnya yang ke-12 — menjadi bagian dari identitas jiwanya. Tanpa gitar itu, Musiciante merasa dunianya tak lagi lengkap.
Pada suatu malam yang lekat dengan badai, di tengah keheningan yang dipenuhi petir, gitar kesayangannya hilang. Ia dirampas secara brutal oleh sekelompok kriminal amatir yang tidak memahami nilai nada di balik senar-senarnya. Gitar itu raib, menghilang dalam angin yang tidak lagi bernyanyi. Untuk John, itu lebih dari pencurian: itu seperti kehilangan bagian jiwanya sendiri. Hatinya yang bergelut dengan kehampaan terusik, dan setiap malam sejak kehilangan itu, ia bermimpi tentang senar yang tak lagi berdentang.
Berita tentang hilangnya gitar itu pun menyebar, bukan hanya di lingkungan musik, tetapi hingga bisik-bisik di belakang panggung para pemusik jalanan. Di dunia itu, berita mirip itu bisa menjadi legenda — jika tidak diselesaikan secara spektakuler. John, melalui manajernya, akhirnya mengambil keputusan drastis: ia akan memanggil detektif yang pernah memecahkan berbagai kasus seni dan benda berharga yang hilang. Detektif itu adalah Bottomwise — seorang yang cerdik, tak terduga, dan terkenal dengan pemikirannya yang tajam dalam memecah misteri yang sulit dipecahkan. Bersamanya ialah asistennya yang tak kalah tajam, Brianna, perempuan berkemauan baja dengan pandangan tajam terhadap detail yang tak terlihat oleh mata biasa.
Bottomwise dan Brianna datang ke kota John dengan wajah serius, namun di balik ketelitian itu tersembunyi antisipasi perjalanan panjang yang akan mengubah hidup mereka. John menjelaskan bagaimana gitar itu bisa hilang: malam itu, saat ia bersiap di belakang panggung sebelum konser besar, ia sempat membiarkan gitar itu di sebuah rak gawang — hanya beberapa menit tak terjaga — dan ketika kembali, gitar itu lenyap tanpa jejak. John tidak bisa memahami sebabnya; ia hanya tahu bahwa gitar itu punya jiwa, cerita, dan catatan masa lalunya yang tak mungkin tergantikan oleh instrumen mana pun di dunia.
Penugasan itu membawa Bottomwise dan Brianna ke lintas benua. Petualangan mereka bukan semata soal mengikuti jejak gitar yang hilang, tetapi juga menyibak cerita-cerita yang tak pernah John ceritakan kepada dunia. Dari pasar loak gelap di Fresno hingga pasar smokel di Asia Tenggara — pasar barang bekas yang berbaur dengan selundupan dan cerita-cerita panjang — petunjuk demi petunjuk mengukir peta sebuah perjalanan yang lebih besar dari sekadar pencarian gitar.
Sepanjang pencarian mereka, Bottomwise dan Brianna bertemu dengan berbagai tokoh yang memperkaya pemahaman mereka tentang alat musik dan nilai yang terkandung di dalamnya. Ada kolektor tua yang mengoleksi bagian-bagian gitar legendaris seperti artefak bersejarah, masing-masing menyimpan kenangan bayangan masa lalu. Ada pula musisi jalanan yang memainkan melodi sederhana di sudut kota kecil dan mengatakan kepada Brianna bahwa gitar adalah “jiwa yang berbicara tanpa suara,” kalimat itu membekas di hatinya lebih dalam daripada kata apa pun.
Dalam salah satu tempat yang tak terduga — Kampung Ketumbi di Pulau Senyap, Sumatera — gitar itu ditemukan berada di tangan seorang penjual tauco sederhana bernama Sadman. Sadman bukan musisi profesional; telinganya “kuali”, selalu salah tangkap ketika nada dimainkan, namun ia merasa ada ikatan batin dengan musik. Gitar itu telah berada dalam hidupnya selama bertahun-tahun setelah ia menemukannya terkubur di kebun, tergores dan penuh bekas petualangan. Sadman menganggap gitar itu sebagai keajaiban — sesuatu yang lebih dari benda, tetapi seperti bisikan takdir yang membawanya keluar dari rutinitas hariannya. Ia menyimpan gitar itu dengan penuh rasa hormat, namun tak sadar bahwa itu adalah gitar legendaris yang dicari dunia.
Kesadaran Sadman akan nilai gitar itu muncul secara perlahan. Seiring waktu, ia berhasil mengumpulkan uang dari berjualan tauco untuk membentuk sebuah band kecil di kampung itu. Tentu saja, “band” itu bukan band profesional seperti yang pernah John pimpin. Beberapa anggotanya buta nada, beberapa hanya tahu pukulan ritmis sederhana, dan beberapa lainnya lebih banyak menciptakan suara-suara tanpa struktur. Namun bagi Sadman dan teman-temannya, bunyi mereka menciptakan harmoni yang berbeda — harmoni kehidupan yang diisi oleh tawa, harapan, dan perjuangan sederhana.
Bottomwise dan Brianna tiba di kampung Ketumbi tidak lama setelah gitar itu menjadi pusat perhatian komunitas musik lokal. Mereka melihat bagaimana gitar itu hidup bersama orang-orang yang sebelumnya tak memiliki pengharapan besar pada dunia musik, namun kemudian menemukan semangat yang tak terduga dalam mengejar mimpi sederhana: bermain musik untuk mengungkapkan kebahagiaan yang tak terkatakan dengan kata-kata. Di sinilah konflik batin muncul: antara memberi kembali gitar kepada pemiliknya yang sah, atau membiarkannya terus menciptakan kegembiraan di tempat yang tak pernah menyangka mendapat kunjungan gitar selegendaris itu.
John Musiciante datang ke Pulau Senyap dalam kondisi emosional yang campur aduk. Ia ingin gitar itu — tentu saja — tetapi ia juga melihat bagaimana gitar itu telah mengubah kehidupan orang-orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ia menyaksikan Sadman dan band kampung itu memainkan irama Melayu yang dipenuhi energi, di mana rebana, qasidah, irama funk rock, dan ritme spontan lainnya bersatu dalam keriuhan yang tak terduga. Musik itu bukan sekadar suara; itu adalah kehidupan yang mengepul lewat setiap denting senar yang nyaris tak beraturan.
Di saat yang sama, Brianna dan Bottomwise, yang sejak awal memandang kasus ini sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, kini dihadapkan pada keputusan yang jauh lebih besar: apakah pencarian mereka telah berakhir, atau apakah sejatinya musik — dan gitar legendaris itu — sudah menemukan rumah yang lebih bermakna di tempat yang tak pernah dilirik dunia musik profesional? Di dalam diri Bottomwise, ada refleksi tentang bagaimana pencarian, bukan hasilnya sendiri, yang memberi makna pada setiap petualangan yang dijalaninya. Baginya, gitar itu telah mengajarkan bahwa setiap benda yang hilang memiliki cerita yang lebih dalam dari yang nampak.
Sementara itu, Brianna, yang awalnya datang dengan semangat profesionalisme dan logika detektif yang kering, mulai melihat dunia dengan kacamata lain — bahwa nilai sebuah instrumen tidak selalu diukur dengan keberadaannya di panggung besar, tetapi oleh bagaimana ia menghubungkan manusia dengan rasa, memori, dan identitas diri. Gitar itu, bagi Brianna, kini bukan sekadar objek dalam laporan kasus, melainkan simbol perjalanan hidup yang tak terduga, di mana kasih, kehilangan, dan harapan bersatu dalam deretan nada yang tak diatur oleh partitur baku.
Dalam adegan pamungkas, John berdiri di tengah kampung Ketumbi, mengamat-amati band lokal yang memainkan sebuah lagu sederhana melodi kehidupan. Bunyi itu bukan bunyi konser rock yang gemerlap, tetapi merupakan harmoni yang lahir dari keberagaman nada — yang salah satunya berasal dari gitar kesayangannya. Di sinilah, dengan pikiran yang tersusun kembali, John berkata dalam hati bahwa kehilangan itu mungkin adalah awal dari sebuah penemuan baru. Bahwa gitar itu hidup lebih dari yang pernah ia bayangkan. Dan bahwa dunia musik tak pernah sekadar tentang siapa yang memilikinya, tetapi tentang apa yang bisa dihasilkan ketika senar-senarnya dimainkan oleh tangan-tangan yang penuh harapan.
Ketika layar kisah ini menutup, Bottomwise dan Brianna kembali ke dunia mereka, membawa cerita tentang gitar legendaris yang tak hanya menghubungkan nada, tetapi juga insan-insan yang berbeda, dari panggung besar hingga sudut kampung terpencil. Mereka telah memecahkan kasus, namun lebih penting lagi, mereka telah memahami bahwa di balik setiap petualangan, terdapat nilai-nilai yang lebih dalam daripada sekadar penyelesaian kasus. Sebuah pelajaran tentang seni, perjuangan, kehilangan, dan bagaimana musik, pada akhirnya, berbicara langsung kepada jiwa yang mendengarnya.

0 Response to "Sinopsis Novel Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata"
Posting Komentar