Novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2017.
Sobrinudin bin Sobiruddin, atau lebih dikenal sebagai Hobri, adalah seorang pemuda yang hidupnya berputar tanpa tujuan yang jelas. Ia tumbuh sebagai anak keempat dari lima bersaudara di sebuah desa kecil di Belitung. Hidup Hobri terasa berbeda dari tiga kakaknya yang sudah lebih dulu menjadi sosok yang ‘berhasil’ dengan pekerjaan tetap dan status sosial yang stabil. Ayahnya, seorang lelaki tua yang menua dengan tenang, bekerja sebagai penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Sementara adik bungsunya menjalani kehidupannya sendiri dengan suka dan duka yang khas. Hobri, dengan pendidikan formal yang hanya sampai kelas dua SMP dan tak pernah dilanjutkan karena terjerumus dalam pergaulan buruk bersama temannya Taripol, menjalani hari-harinya sebagai pengangguran serabutan di pasar.
Di balik rutinitas bangun di pagi buta untuk mengais rezeki kecil, Hobri memendam kerinduan akan sesuatu yang lebih bermakna. Ia sering merasa dirinya seperti sebuah potongan teka-teki yang belum terpasang sempurna dalam kehidupan. Pohon delima yang tumbuh di pekarangan rumahnya menjadi simbol dari kekacauan batin itu — sebatang pohon yang menurut tetangga penuh dengan kisah mistis, sering diabaikan, tetapi selalu menghadirkan rasa penasaran. Pohon itu bukan sekadar flora, melainkan metafora kehidupan Hobri yang berliku dan berlapis.
Suatu hari, dalam kerumunan penonton sebuah pertandingan voli antara karyawan perusahaan lokal, Hobri bertemu dengan Dinda, seorang gadis yang bersemangat dan bekerja di toko sembako. Dinda tidak hanya menarik perhatian Hobri secara fisik, tetapi juga membuka horizon batinnya: keinginan untuk memperbaiki diri. Hobri yang sebelumnya hidup pasrah mulai merasakan pergeseran tujuan hidup ketika ia mengetahui betapa Dinda menyukai buah delima — pohon yang selama ini hanya dianggapnya sebagai sumber masalah dan cerita horor. Ia mulai melihat pohon itu dengan cara yang berbeda, sebagai sesuatu yang mungkin bisa disatukan dengan usaha dan semangat.
Cinta tumbuh secara perlahan di relung hati Hobri, bukan dalam ledakan emosi, tetapi seperti lentera yang bermekaran dengan tenang di malam gelap. Ia menyadari bahwa untuk layak berada di sisi perempuan yang ia kagumi, dirinya harus memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar kerinduan — ia harus punya pekerjaan, tanggung jawab, dan sebuah cara untuk memastikan masa depan. Namun, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang ijazahnya hanya sebatas SD. Setiap peluang kerja menolak dirinya karena persyaratan pendidikan yang tak terpenuhi. Rasa malu dan frustrasi mencambuk batinnya, membuat Hobri semakin merasa terpojok di kehidupan sendiri.
Keadaan Hobri berubah ketika suatu hari adik iparnya, Suruhudin, yang merasa iba terhadap situasi hidup Hobri, membisikkan sebuah tawaran pekerjaan yang bersifat misterius. Tawaran itu bukan berasal dari perusahaan formal atau kantor pemerintah, tetapi dari sebuah sirkus keliling yang sedang mencari tenaga baru. Sirkus itu bukan sekadar wahana hiburan biasa: ia merupakan sebuah komunitas yang hidup di luar norma sosial dan menghadirkan dunia yang berbeda dari rutinitas harian Hobri.
Tanpa banyak berpikir panjang, Hobri memutuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Ia melihatnya sebagai peluang untuk lepas dari stigma pengangguran dan sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna — sekaligus sebagai usaha untuk membuktikan pada Dinda, dan pada dirinya sendiri, bahwa ia mampu berdiri tegak di hadapan dunia. Ia pun bergabung dengan sirkus sebagai badut — sebuah peran yang menuntutnya untuk terus tampil ceria, meskipun batinnya bergejolak.
Sirkus keliling menjadi babak baru dalam hidup Hobri. Di sana, ia bertemu dengan karakter-karakter yang aneka ragam: dari para pemain sirkus yang nyentrik sampai pada pengelola sirkus yang penuh intrik. Semua membawa Hobri pada pemahaman baru tentang kehidupan, kerja keras, dan makna kebersamaan. Meski awalnya dipenuhi kesalahpahaman dan kekonyolan, Hobri perlahan menemukan ritme hidupnya. Dia belajar menerima kekuatan dan kelemahan pada dirinya sendiri, serta membangun solidaritas dengan orang-orang yang sebelumnya ia anggap asing.
Sirkus bukan sekadar arena hiburan; ia menjadi cerminan hidup lengkap dengan ironi, tawa, harapan, dan keputusasaan. Di sana, Hobri belajar bahwa pekerjaan bukan sekadar status sosial, tetapi juga ruang bagi kreativitas, identitas, dan pembuktian diri. Ia belajar kesabaran menghadapi kekecewaan dan kebanggaan ketika berhasil membuat orang tertawa. Ia tumbuh dari seorang pemuda tak berarah menjadi pribadi yang mampu menghadapi dunia dengan kepala tegak.
Walaupun Hobri telah menemukan pekerjaan dan arah baru dalam hidup, cinta kepada Dinda tetap menjadi kekuatan internal yang terus menggugahnya untuk berjuang. Namun hubungan ini tidak lantas berjalan mulus. Hobri sering merasa cemburu sekaligus inferior terhadap kehidupan orang lain yang ia pandang lebih ‘mapan’. Ia mempertanyakan nilainya di mata Dinda, serta apakah kehidupan sirkus akan memberinya cukup ruang untuk mempertahankan hubungan itu.
Konflik batin ini terus menerus menekan pikiran Hobri hingga kepahitan bertemu kebingungan: apakah cita-cita cinta dan pekerjaan bisa berjalan beriringan? Ia bertarung dengan keraguan sendiri, sampai kemudian ia menyadari sesuatu yang lebih mendalam — bahwa cinta sejati bukan tentang idealisasi, tetapi kesiapan untuk menerima kenyataan dan berjuang bersama dalam situasi apa pun.
Sementara perjalanan Hobri berkembang, novel ini juga memperkenalkan kisah lain yang kelak bersinggungan dengan hidupnya. Di sebuah kota lain, Tara, seorang gadis pewaris sirkus keliling yang sama, berjumpa dengan Tegar, seorang pemuda pemberani dan cerdas. Pertemuan mereka terjadi dalam suasana yang penuh emosional — bukan di arena sirkus, tetapi di kantor pengadilan agama, ketika kedua orang tua mereka tengah berurusan dengan perceraian. Meskipun awalnya hubungan mereka terasa biasa, benih ketertarikan tumbuh diam-diam antara Tara dan Tegar.
Kisah mereka berkembang dengan kepekaan emosional yang mengangkat tema cinta, kehilangan, dan harapan baru. Tara, yang hidupnya telah lama dibentuk oleh tradisi keluarga sirkus, melihat dalam diri Tegar bukan sekadar sosok pemuda yang peduli padanya, tetapi seseorang yang mampu memahami kompleksitas jiwanya. Sedikit demi sedikit, hubungan mereka menjadi salah satu benang merah yang mengikat bagian-bagian berbeda dari cerita menjadi satu narasi yang utuh.
Cerita sirkus pohon tak berhenti pada dinamika personal antar tokoh, tetapi juga mencerminkan realitas sosial masyarakat di sekitarnya. Konflik muncul ketika tokoh antagonis dalam cerita yang penuh ambisi, Gastori, mencoba memanfaatkan situasi dan kekuasaan demi kepentingan politiknya sendiri. Gastori mewakili kekuatan yang tak segan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan politik — sebuah kritik sosial terhadap praktik kekuasaan yang pragmatis.
Kehadiran Gastori dan intrik politik yang dibawanya memperlihatkan sisi lain dari kehidupan masyarakat: di mana aspirasi, manipulasi, dan harapan sering kali berbenturan, menciptakan tekanan bagi setiap individu yang tengah mencari arah hidup. Tokoh-tokoh seperti Taripol dan Abdul Rapi pun berubah dari semula antagonis menjadi sekutu yang membantu melunasi utang-utang Hobri dan Ibu Bos, menunjukkan bahwa kehidupan bukanlah hitam-putih, tetapi penuh nuansa perubahan.
Menjelang akhir cerita, kehidupan Hobri dan kisah Tara-Tegar semakin terjalin erat. Sirkus keliling, yang dahulu hanya sebuah tempat pekerjaan bagi Hobri, berubah menjadi arena pertemuan berbagai nasib, harapan, dan citra kehidupan masyarakat. Hobri menemukan bahwa kehidupan bukan soal menjadi sempurna, tetapi tentang kemampuan untuk bertahan, belajar, dan menemukan makna dalam ketidaksempurnaan.
Novel ini ditutup tanpa memberikan akhir yang sepenuhnya jelas tentang setiap nasib tokohnya — sebuah refleksi bahwa kehidupan nyata seringkali tidak memiliki kesimpulan yang rapi. Pembaca dibiarkan membentuk sendiri interpretasi tentang masa depan Hobri, Dinda, Tara, dan Tegar. Akhir cerita bukan sekadar tujuan, tetapi undangan untuk merenungkan hubungan antara keberanian, cinta, kerja keras, dan kehidupan yang terus berjalan.

0 Response to "Sinopsis Novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata "
Posting Komentar