Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2023.
Di sebuah pagi yang diselimuti kabut abu gelap, dunia mengenang tragedi ketika senapan terangkat kepada seorang lelaki di tanggal 18 Mei 1970. Langit melintas hitam dengan semburat ungu, seolah enggan menyaksikan akhir seorang ayah yang berdiri di hadapan barisan senjata. Empat orang lelaki berdiri tegak dengan laras panjang membidik, tetapi hanya satu di antara mereka yang memegang peluru tajam. Bau mesiu, lolongan anjing yang jauh, dan nyanyian burung nasar yang bertengger di pagar kawat membentuk latar yang takkan pernah hilang dari ingatan. Itu adalah apa yang Segara Alam bayangkan sebagai detik–detik terakhir ayahnya.
Tapi pada kenyataannya, ia tak pernah benar-benar mengenal ayahnya. Sepenggal kenangan itu ia genggam dari cerita-cerita orang di sekelilingnya — bagaimana ayahnya seorang seniman dan wartawan kiri yang dituduh sebagai pengkhianat negara, bagaimana ia diadili oleh bisik dan tatapan masyarakat, lalu akhirnya diambil hidupnya oleh kekuasaan yang brutal. Tuduhan yang dikenakan kepadanya bukan hanya mengakhiri hidup seorang lelaki, tetapi menjungkirbalikkan takdir keluarga yang ditinggalkannya.
Segara Alam, yang kemudian hanya dipanggil Alam, lahir di bawah bayang-bayang tuduhan itu — sebuah warisan yang tak pernah dimintanya. Dari detik pertama setelah ia membuka mata, dunia sudah mengenakannya dengan stigma. Ibarat bekas luka yang dicap pada kulit, sejarah ayahnya menciptakan peta luka yang terpahat di setiap sudut kehidupan alam kecil ini.
Alam tumbuh dengan kemampuan yang jarang dimiliki siapa pun: ingatan fotografis yang tajam, yang membuat setiap detail terasa nyata, bahkan yang tak sempat ia lihat secara langsung sekalipun. Hal-hal kecil seperti warna kapok di balik sinar matahari sore, suara jejak kaki orang tua saat mengantarnya ke sekolah, atau tatapan sinis sepupunya saat menuduhnya “anak pengkhianat negara,” — semua terekam dengan jelas. Ia tak bisa melupakan apa pun.
Pada usia tiga tahun, ia hanya dapat mengingat potongan gambaran ketika seorang lelaki dewasa menodongkan senapan kepadanya. Pada umumnya, anak seusianya tak akan menyimpan momen semacam itu dalam benak, tetapi bagi Alam, momen itu nyata dan selalu hadir dalam gelombang rasa takut yang tak terlihat.
Stigma ini kemudian tidak hanya datang dari luar rumah, tetapi juga dari dalam keluarga sendiri. Sepupunya yang seharusnya menjadi teman bermain menatapnya dengan mimik kebencian. Kata-kata tajam terucap tanpa belas kasihan, seperti sengatan yang terus-menerus mendorong Alam ke dalam perasaan bahwa ia membawa “dosa” yang bukan miliknya.
Dalam bayangan anak itu, setiap tatapan tajam orang dewasa seolah berkata bahwa ia bukan sekadar anak tanpa dosa, melainkan anak dari seseorang yang dianggap berkhianat. Sampai suatu masa, Alam percaya bahwa dosa itu mengalir dalam darahnya — sesuatu yang tak bisa dihapuskan, tak bisa ia serahkan pada waktu, dan tak bisa ia pendam dalam lubuk hati.
Di sekolah dasar, kenyataan sosial yang keras mulai menghampirinya. Ia bukan hanya teman sekelas, tetapi juga sasaran ejekan dan bullying yang tak henti. Bukan karena ia lemah, tetapi karena nama keluarganya. Anak-anak lain sering menyebutnya sebagai anak dari “pengkhianat negara,” sebutan yang melekat seperti noda yang tidak pernah pudar.
Kekerasan verbal ini menyebar ke segala penjuru kehidupannya — dari sekolah hingga gang kecil di komplek rumah, bahkan hingga ke dalam mimpi-mimpinya. Alam menjadi saksi bagaimana kekuatan sejarah dapat membentuk persepsi orang terhadap seseorang yang belum sempat membuktikan siapa dirinya. Stigma itu seperti bayangan panjang yang terus mengejarnya, bahkan ketika ia tertawa atau mencoba bermain seperti anak lain.
Meski begitu, tidak semua interaksinya menyimpan kebencian. Di antara gelombang ejekan dan tatapan sinis, ada juga secercah kebaikan. Beberapa anak lain, meski awalnya tak memperlakukannya berbeda, mulai menyadari bahwa Alam bukan sekadar simbol sejarah keluarga yang tragis. Ia seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu, selera humor, serta hasrat untuk memahami dunia di luar bayang-bayang masa lalu.
Ketertarikan Alam pada dunia sekolah tidak selalu stabil. Ia sering merasa tidak betah di kelas yang dipenuhi aturan dan materi yang terasa jauh dari realitas hidupnya. Namun, pengalaman berpindah sekolah pada masa remaja kemudian membuka pintu baru dalam hidupnya. Pindah ke sekolah menengah atas yang berbeda membuatnya bertemu dengan teman-teman yang berpikir lebih kritis, serta guru yang mengajaknya melihat sejarah dan identitas dari sudut pandang yang lebih luas.
Masa remaja Alam ditandai oleh pergeseran cara pandangnya terhadap dunia. Ia mendapatkan seorang guru sejarah yang tidak sekadar mengajar tanggal, peristiwa, dan nama tokoh, tetapi mendorong murid-muridnya untuk mempertanyakan narasi resmi sejarah yang selama ini diajarkan. Guru ini, yang dikenal dengan Bu Umayani, melibatkan Alam dalam eksplorasi catatan sejarah yang lebih jujur dan mendalam, di luar kacamata kekuasaan.
Dalam kelas ini, Alam mulai memahami bagaimana sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang berkuasa — dan bagaimana kisah mereka yang lemah atau kalah kerap dibiarkan hilang atau disederhanakan. Ia menyadari bahwa narasi tentang ayahnya, yang selama ini menjadi beban sepanjang hidupnya, mungkin adalah bagian dari cerita yang lebih besar dan kompleks.
Dorongan dari guru sejarah ini membuat Alam mulai menuliskan catatan tentang pengalaman hidupnya sendiri. Bukan semata catatan akademis, tetapi catatan batin yang merekam perasaan, luka, dan ingatan yang tak pernah luntur. Menulis membuatnya merasa lebih bebas daripada sekadar memendam rasa dalam diam. Catatan-catatan itu menjadi bentuk perlawanan terhadap lupa — baik lupa kolektif maupun lupa pribadi.
Melalui tulisan-tulisannya, Alam mulai melihat dirinya bukan lagi hanya sebagai anak dari seorang yang dikutuk oleh sejarah, tetapi sebagai seorang individu yang berhak mengklaim identitasnya sendiri. Ia pun mulai menyadari bahwa sejarah keluarga tidak semata-mata takdir yang menghancurkan, tetapi juga sumber kekuatan dan pemahaman.
Seiring waktu ia tumbuh menjadi sosok yang semakin kompleks. Rasa cinta mengunjungi hatinya secara perlahan. Bukan cinta yang datang secara dramatis, tetapi hadir lewat momen-momen sederhana — tatapan pertama terhadap seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, kerinduan yang ia rasakan saat tidak berjumpa, serta keyakinan bahwa ada hal lebih besar dalam hidup selain sejarah kelam keluarga.
Cinta tidak datang tanpa komplikasi. Alam sering kali dihadapkan pada konflik batin antara perasaan baru ini dengan bayangan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia berusaha menyeimbangkan cinta terhadap orang lain dan cinta terhadap dirinya sendiri, yang sudah lama tertutup rasa malu, amarah, dan kebencian yang diwariskan kepadanya sejak kecil.
Persahabatan juga menjadi semacam jangkar di kala badai batinnya muncul. Teman-teman barunya — yang datang dari latar belakang berbeda, memiliki harapan berbeda — membuka dunia baru baginya. Dalam tawa, diskusi, dan kebersamaan mereka, Alam menemukan bahwa kehidupan lebih dari sekadar label sejarah. Ia mulai memahami arti persaudaraan, solidaritas, dan penerimaan, yang selama ini terasa seperti mimpi jauh.
Masa SMA-nya di sekolah baru menjadi fase penting dalam proses pendewasaan Alam. Ia mulai memusatkan energinya pada studi dan penulisan narasi pribadi yang lebih berani. Ia mencatat setiap kejadian — baik itu penghinaan di kelas, percakapan yang membuka pandangannya tentang narasi sejarah, hingga jam-jam panjang di ruang baca tempat ia menemukan buku-buku yang meretas cara berpikirnya.
Semakin ia menulis, semakin ia menyadari bahwa identitas tidaklah tetap — identitas dapat dirangkai, direnungkan, dan diubah oleh pengalaman. Ia merasakan bahwa meskipun sejarah keluarga pernah menetapkannya sebagai “anak yang dikutuk,” ia sendiri yang boleh memutuskan bagaimana narasi hidupnya berjalan.
Dalam kembara pikirannya, Alam juga mulai mendekati konsep pemaafan — bukan hanya terhadap orang yang pernah melecehkannya, tetapi terhadap diri sendiri, terhadap sejarah ayahnya, dan terhadap masa lalu yang berat. Ia belajar bahwa melepaskan bukan berarti melupakan, tetapi menerima bahwa masa lalu telah membentuk siapa dirinya, tanpa harus menjadi bayangan yang terus menghantuinya.
Pada akhirnya, perjalanan hidup Segara Alam adalah perjalanan pencarian identitas yang tak lekang oleh waktu. Ia harus menghadapi bayang-bayang sejarah yang diwariskan kepadanya, menumbuhkan kekuatan untuk memikulnya, dan kemudian menuliskan kisahnya sendiri yang bersatu dengan narasi sejarah bangsa yang lebih luas.

0 Response to "Sinopsis Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori"
Posting Komentar